Senin, 08 Juli 2013
Rabu, 03 Juli 2013
Minggu, 30 Juni 2013
Minggu, 23 Juni 2013
Makalah Geografi Industri
SOLUSI MENGATASI LIMBAH
RUMAH TANGGA UNTUK MENINGKATKAN PROSES INDUSTRI
MAKALAH
Disusun
untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Geografi Industri dan Pertanian
Oleh,
Cep
Roby Hermawan
122170037
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI TASIKMALAYA
TAHUN 2013
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian,
limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia. Limbah merupakan
buangan atau sesuatu yang tidak terpakai berbentuk cair, gas dan padat. Dalam
air limbah terdapat bahan kimia yang sukar untuk dihilangkan dan berbahaya.
Bahan kimia tersebut dapat memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit
disentri, tipus, kolera dan penyakit lainnya. Air limbah tersebut harus diolah
agar tidak mencemari dan tidak membahayakan kesehatan lingkungan. Air limbah
harus dikelola untuk mengurangi pencemaran.
Dalam dunia arsitektur ada metode yang bisa diterapkan dalam merencanakan
pengolahan limbah rumah tangga yaitu dengan :
• Membuat saluran air kotor
• Membuat bak peresapan
• Membuat tempat pembuangan sampah sementara
Hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut
;
1) Tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah
sekitarnya baik air dipermukaan tanah maupun air di bawah permukaan tanah.
2) Tidak mengotori permukaan tanah.
3) Menghindari tersebarnya cacing tambang
pada permukaan tanah.
4) Mencegah berkembang biaknya lalat dan
serangga lain.
5) Tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
6) Konstruksi agar dibuat secara sederhana
dengan bahan yang mudah didapat dan murah.
7) Jarak minimal antara sumber air dengan
bak resapan 10 m.
Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan pasir
dan benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan. Benda yang
melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat khusus untuk
menghilangkan minyak dan lemak. Lumpur dari bak pengendap pertama dibuat stabil
dalam bak pembusukan lumpur, di mana lumpur menjadi semakin pekat dan stabil,
kemudian dikeringkan dan dibuang. Pengelolaan sekunder dibuat untuk
menghilangkan zat organik melalui oksidasi dengan menggunakan saringan khusus.
Pengelolaan secara tersier hanya untuk membersihkan saja. Cara
pengelolaan yang digunakan tergantung keadaan setempat, seperti sinar matahari,
suhu yang tinggi di daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.
B. PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH TANGGA
Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan pasir
dan benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan. Benda yang
melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat khusus untuk menghilangkan
minyak dan lemak. Lumpur dari bak pengendap pertama dibuat stabil dalam bak
pembusukan lumpur, di mana lumpur menjadi semakin pekat dan stabil, kemudian
dikeringkan dan dibuang.
Pengelolaan sekunder dibuat untuk menghilangkan zat organik melalui oksidasi
dengan menggunakan saringan khusus.
Pengelolaan secara tersier hanya untuk membersihkan saja. Cara pengelolaan yang
digunakan tergantung keadaan setempat, seperti sinar matahari, suhu yang tinggi
di daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.
Berikut
ini adalah pengelolaan limbah rumah tangga untuk limbah cair, padat dan gas.
1.
Pengelolaan
air limbah kakus I.
2.
Pengelolaan
air limbah kakus II.
3.
Pengelolaan
air limbah cucian.
4.
Pembuatan saluran
bekas mandi dan cuci.
5.
Pengelolaan
sampah.
6.
Pengelolaan
limbah industri rumah tangga.
7.
Pengelolaan
air limbah rumah tangga I
8.
Pengelolaan
air limbah rumah tangga II
9.
Pengelolaan
air limbah
Air limbah dialirkan melalui saluran ke drum dan air dalam drum akan disaring
dengan koral/ijuk ke luar, dan kemudian meresap ke dalam tanah.
Bahan :
1.
Drum
2.
Koral
3.
Kayu
4.
Ijuk
5.
Pipa pralon
Peralatan:
1.
Palu
2.
Besi runcing
3.
Cangkul
4.
Parang
5.
Gergaji
Pembuatan:
Drum dilubangi dengan garis tengah 1 cm, jarak antara lubang 10 cm. Pembuatan
lubang di luar dapur dengan ukuran panjang, lebar dan dalam masing-masing 110
cm. Di dasar lubang diberi koral/ijuk setebal 20 cm dan drum dimasukkan ke
dalam lobang tersebut. Sela-sela drum diselingi dengan koral/ijuk. Kemudian
dibuat saluran air limbah ukuran ½ bis, atau dari pasangan batu bata. Drum
ditutup dengan kayu/bambu atau kalau ingin lebih tahan lama dicor dengan
campuran semen dan pasir yang diberi penguat besi. Untuk pembuatannya dapat
dilihat pada Gambar 1,2,3, dan 4 di bawah ini.
Gambar 1.
Drum yang Dilubangi
Gambar 2.
Pembuatan Lubang
Gambar 3.
Drum di dalam Lubang Bangunan
Gambar 4.
Tutup Bak Penampung
C. Limbah Rumah Tangga dari Buangan
Closet (WC)
Closet (WC) adalah suatu cara pembuangan air kotoran manusia agar air kotoran
tersebut tidak mengganggu kesehatan dan lingkungan. Dibuat bak penampung
kotoran (septik tank) yang terdiri dari bak pengumpul dan bak peresapan serta
dihubungkan dengan saluran pipa pralon. Air limbah closet (WC) dialirkan
melalui pralon ke bak penampung kotoran berdinding kedap air.
Berikut ini contoh membuat bak penampung kotoran dengan jumlah keluarga 6 orang
dan dalam jangka waktu 5 tahun, sedangkan waktu tinggal dalam tangki
direncanakan minimal 2 hari (24 jam).
Untuk mendapatkan gambaran besarnya tangki yang harus dibuat maka diperoleh
dengan cara sebagai berikut :
a. Jumlah
air limbah yang dibuang setiap hari sekitar 100 liter/orang/hari.
b. Besarnya
tangki pencerna dalam 1 tahun 2 x 6 x 100 liter = 1.200 liter.
c.
Banyaknya lumpur sebesar 30 liter/orang/tahun.
d. Banyaknya lumpur selama 5 tahun 6 x 30 liter x 5 = 900 liter.
e. Jadi untuk melayani keluarga tersebut di atas diperlukan tangki pencerna 1,2
m3 dengan ruang pengumpul lumpur sebesar 0,9 m3.
1. Cara Pembuatan Closet
Ruang closet (WC) dibuat tertutup , closet (WC) dengan lubang leher angsa
dipasang, kemudian dibuat tangki kotoran dengan dinding kedap air. Untuk
mengalirkan udara dari tangki keluar dipasang pula pralon berukuran kecil yang
berbentuk huruf T. Kemudian dibuat sumur resapan yang didalamnya diisi kerikil,
ijuk dan dinding peresapan berlubang-lubang. Pembuatannya dapat dilihat pada
gambar dibawah ini
Gambar 5. Pengelolaan Air Limbah Closet (WC)
Closet tersebut digunakan untuk membuang air kotoran manusia (tinja dan air
seni). Closet perlu dijaga kebersihannya, yaitu dengan menggunakan karbol
dengan takaran yang sesuai dengan aturan. Jangan masukkan benda-benda padat
seperti : kerikil, batu, kertas, kain , plastik,dsb, karena dapat menyumbat
saluran air.
Peresapan air pada Closet tergantung dari kapasitas tangki/bak dan jenis
tanahnya. Semakin kecil bak peresapan, maka akan semakin kecil resapannya.
Keuntungan menggunakan cara ini ialah mudah dibuat,
sederhana, bahan-bahnya mudah didapatkan dan murah. Selain itu cara ini lebih
baik, karena dapat mengurangi pencemaran sumber air bersih disekitarnya.
2. Penggunaan Air Untuk Keperluan Closet
Toilet siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa memakan hingga 40%
dari penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dengan jumlah penggunaan 190
liter air per kepala per hari, mengganti toilet ini dengan unit baru yang menggunakan
hanya 0,7 liter per siraman bisa menghemat 25% dari penggunaan air untuk rumah
tangga tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan. Sebaliknya, memasang unit
penyiraman yang memakai 19 liter air di sebuah rumah tanpa WC bisa meningkatkan
pemakaian air hingga 70%. Jelas, hal ini tidak diharapkan di daerah yang
penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal tersebut juga bisa menambah jumlah
limbah yang akhirnya harus dibuang dengan benar.
Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, banyak perhatian telah diberikan
pada pembuatan sistem sanitasi yang tahan lama, hemat air, bisa diterima oleh
orang-orang yang akan memakainya, dan memungkinkan penggunaan kembali limbah
yang telah diolah. Pengembangan sanitasi yang paling penting dalam dekade ini
adalah pengesahan bentuk-bentuk sanitasi yang sebelumnya dianggap primitif.
Setelah beberapa tahun penelitian terapan dan kemajuan teknologi, kakus luar
rumah telah ditransformasi menjadi instalasi sederhana tapi canggih yang
memberikan tingkat kenyamanan dan kesehatan yang tinggi. Dua teknologi penting
yang berhubungan dengan kakus ini adalah: lubang kakus yang diperbaiki dan
diberi ventilasi (Ventilated Improved Pit latrine/VIP latrine) dan toilet siram
guyur (Pour Flush Toilet/PF toilet). Dua teknologi ini biayanya jauh lebih
sedikit daripada toilet konvensional yang dihubungkan ke tanki septik atau
sistem saluran pembuangan.
D. Limbah Rumah Tangga dari Saluran
Air Pembuangan
Selain dari buangan closet (WC) limbah bekas air buangan kamar mandi dan bekas
air cucian juga harus dikelola dengan baik. Berikut ini merupakan ketentuan
yang sedapat mungkin untuk dilakukan dalam pengelolaannya yaitu tempat cucian
dipasang tidak jauh dari dapur. Bak cucian dipasang saringan, saluran pralon ke
bak kontrol yang jaraknya maksimum 5 m. Bak ini perlu ditutup dan diberi
pegangan agar memudahkan pengambilan tutup bak. Agar binatang tidak dapat masuk
perlu dibuat besi penghalang.
Untuk pembuatannya dapat
dilihat pada Gambar di bawah ini:
Gambar 6. Pengelolaan Air
Limbah Saluran Pembuangan
Dari gambar tersebut terlihat kegunatempat pengelolaan limbah, yaitu untuk
membuang air cucian dapur dan kamar mandi serta untuk membuang air kotoran
kamar mandi. Saluran pengolahan limbah ini perlu dibersihkan secara teratur
terutama pada saringan air. Jangan membuan benda-benda padat seperti : batu
kerikil, kertas, kain, plastik dan barang-barang lainnya, karena akan menyumbat
saluran.
Limbah air bekas mandi dan cuci dialirkan ke bak kontrol dan langsung ke sumur
resapan. Air akan tersaring pada bak resapan dan air yang keluar dari bak
resapan sudah bebas dari pencemaran.Tempat mandi dan cuci dibuat dari batu
bata, campuran semen dan pasir. Bak kontrol dibuat terutama untuk saluran yang
berbelok, karena pada saluran berbelok lama-lama terjadi pengikisan ke samping
sedikit demi sedikit, dan akan terjadi suatu pengendapan kotoran. Dibuat juga
sumur resapan yang terbuat dari susunan batu bata kosong yang diberi kerikil
dan lapisan ijuk. Sumur resapan diberi kerikil dan pasir. Jarak antara sumur
air bersih ke sumur resapan minimum 10 m agar supaya jangan mencemarinya.
Disamping cara yang tersebut diatas untuk mengelola limbah saluran kamar mandi
dan limbah bekas cucian dapat juga dilakukan dengan cara mengalirkan limbah
melalui saluran ke sebuah lubang resapan.
Pertama dibuat lubang di luar dapur dengan lebar, panjang dan tinggi 1 m atau
disesuaikan dengan tempat dan kebutuhan. Di buat saluran dari batu bata, pasir,
semen atau pakai bis. Kalau saluran terbuka bisa ditutup dengan bambu, kayu
atau seng. Bak resapan diisi dengan pasir, kerikil, batu kali. Akan lebih baik
kalau bak resapan ditutup dengan kayu/bambu/cor-coran pasir dan semen. Dan
dapat diberi saluran udara dari pralon. Cara pembuatannya dapat dilihat pada
Gambar di bawah ini.
Gambar 8. Pengelolaan limbah
air buangan kamar mandi dan limbah bekas air cucian.
E. Limbah Industri Rumah Tangga
Industri rumah tangga seperti industri tempe, tahu, rumah makan, dan lain-lain
perlu dikelola. Limbah dari industri rumah tangga tersebut menimbulkan bau yang
tidak enak dan mengganggu lingkungan sekitarnya.
Salah satu cara mengelola limbah rumah tangga adalah dengan membuat 3 bak.
Ketiga bak tersebut digunakan sebagai tempat pengendapan limbah secara
bertahap. Dengan demikian air limbah yang keluar dari bak terakhir sudah tidak
membahayakan lagi.
Cara pembuatannya ialah buat bak sebanyak 3 buah dari batu bata dengan campuran
pasir dan semen. Kemiringan saluran harus diperhitungkan. Usahakan jangan
sampai ada benda pada air limbah, sebab apabila ada akan menempel dan menyumbat
saluran. Antara bak satu dengan lainnya dihubungkan pipa pralon, antara satu
dengan yang lain letaknya lebih rendah. Susunan dan sifat air limbah yang
berasal dari limbah industri rumah tangga tergantung pada macam dan jenisnya,
industri.
Air limbah dapat berupa limbah dari pabrik susu, rumah makan, pemotongan hewan,
pabrik tahu, pabrik tempe, dsb. Kotoran air limbah yang masuk ke bak I, akan
mengapung. Pada bagian bawah limbah melalui pipa akan terus mengalir ke bak II.
Lemak akan tertinggal dan akan menempel pad dinding. Untuk mengambil lemak perlu
diserok. Dalam Bak II limbah akan mengalami pengendapan, terus ke bak III
begitu juga. Dari pipa pralon pada bak III air limbah akan keluar dan sudah
tidak membahayakan lagi. Untuk membawa lumpur diperlukan kecepatan 0.1m/detik
dan untuk membawa pasir kasar perlu kecepatan 0,2m/detik. Cara pembuatannya
dapat dilihat Gambar di bawah ini.
Gambar 9. Denah bak pengendap
ideal berbentuk persegi panjang
Gambar 10.
Bak limbah industri rumah tangga
Dari gambar diatas terlihat kegunaannya yaitu untuk membuang limbah industri
rumah tangg dan untuk membuang kotoran-kotoran yang bersifat cair.Bak hendaknya
sering dibersihkan agar kotorannya tidak mengganggu saluranPerlu di kontrol
saluran-salurannya untuk menghindari kemacetan.Jangan membuang limbah berupa
benda padat seperti : kain, kertas, daun-daun, plastik, kerikil, dsb.
Kerugiannya ialah apabila
kurang dikontrol akan sering macet, sehingga air akan keluar ke atas dan
mengganggu lingkungan sekitarnya.
F. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
Bak sampah dapat dipakai untuk membuang kotoran seperti daun, plastik, kertas.
Pembakaran kotoran dari sampah untuk bak yang dibuat dari kayu diambil dahulu
lalu dibakar di tempat. Sampah kompleks perumahan biasanya diambil dengan
gerobak sampah/truk sampah dan dibuang ke tempat lain.
Dapat dibuat bak, bisa dari kayu bekas/batu bata atau bisa juga dari porselin.
Bak dari kayu lebih sederhana tetapi kotoran tidak dapat dibakar, karena bak
akan terbakar. Bak yang dari batubata, kotorannya bisa dibakar. Agar supaya
kayu bawah tidak terkena rayap dapat dibuatkan kaki. Begitu pula pada bak batu
bata, agar mudah memindahkan bak. Cara pembuatan bak sampah dapat dilihat pada
Gambar di bawah ini.
Gambar 11. Alternatif bentuk
bak sampah
Bak sampah tersebut digunakan untuk membuang kotoran sampah seperti kertas,
daun, dsb. Agar tetap terawat, maka perlu diperhatikan hal, yaitu:
1) Bak kayu
perlu di cat
2) Setelah
penuh diambil terus dibakar
3) Jangan
membuang yang berbau busuk seperti bangkai, dsb.
1. Mendaur Ulang Sampah Rumah Tangga
Mendaur ulang sampah merupakan salah satu cara yang perlu mendapat prioritas
utama dalam pengelolaan sampah rumah tangga, karena gangguan pencemarannya
tinggi. Pengomposan sebaiknya dilakukan di dalam wadah untuk mencegah
pencemaran lingkungan, gangguan binatang dan menjaga estetika.
Bahan wadah tempat sampah:
• Wadah portable dapat menggunakan drum, plastik, kayu, anyaman
bambu, dsb.
• Wadah permanen dapat menggunakan pasangan semen dengan ukuran:
panjang dan lebar minimal 75 cm, sedangkan tingginya lebih kurang 100 cm.
Bagian atas dibuatkan tutup yang mudah dibuka/tutup, bagian depan bawah diberi
lobang panen kompos.
Alat yang telah diuji coba dengan hasil baik adalah drum 200 liter, diberi
pasangan pipa PVC berlubang-lubang untuk penghawaan. Bahan yang dikomposkan
berupa sampah daun dan sisa makanan dapur.
Cara Pengomposan Sampah Rumah Tangga:
• Drum dipasang tegak, diganjal dan di bawah lubang ditaruh pecahan genteng
untuk mencegah tikus masuk.
• Sampah daun dari pembersihan halaman dikumpulkan di dekat drum komposter
dan dipotong-potong (2,5 - 5 cm) menggunakan parang atau gunting rumput.
• Sampah dapur ditampung dulu di dapur dalam dua ember kecil bertutup, yang
satu untuk sisa makanan, yang kedua untuk plastik dan barang-barang bekas lain.
Setiap kali ember sisa makanan penuh, dibawa ke kebun, dan dimasukkan ke dalam
drum kemudian di atasnya ditutup rapat dengan potongan daun atau serbuk gergaji
untuk mencegah pencemaran lalat dan menyeimbangkan C2N ratio. Kemudian di atas
lapisan ditaburi aktivator isolar mikroorganisme 2 - 3 sendok besar(antara
lain: orgaded, stardec, dsb.), atau kompos dan terakhir disiram air agar selalu
lembab.
• Demikian dilakukan setiap hari sampai drum penuh dan biarkan pengomposan
berlanjut. Proses pengomposan akan merambat dari bawah ke atas seperti yang
terjadi di lantai hutan.
• Untuk mempercepat pengomposan, sejak drum berisi separuh, perlu sering
ditusuk-tusuk agar terjadi lorong-lorong penghawaan.
• Setelah lebih kurang 6 minggu, kompos dipanen dengan mengeluarkannya dari
drum, dikering anginkan dan dapat langsung dipakai. Sesudah itu drum dapat
dipakai kembali.
Pengomposan
sampah dalam jumlah banyak:
Apabila tersedia banyak bahan baku sampah, misalnya setelah pemangkasan
tanaman, bahan baku ini dapat dimasukkan seluruhnya ke dalam wadah dengan
menggunakan sistim berlapis (sandwich system), dengan ketebalan lapisan kurang
lebih 30 cm. Di atas setiap lapisan bahan baku sampah diberi pupuk kandang, tanah
subur, kompos atau ditaburi aktivator biologis (orgadec, stardec, dll.)
kemudian diberi air supaya lembab. Demikian dilakukan sampai penuh dan wadah
segera ditutup untuk menghindari gangguan berbagai binatang. Untuk tahap
pengomposan selanjutnya lihat poin diatas.
2. Tempat Pembuangan Akhir dan Penerapan Sanitary Landfill
Sanitary Landfill adalah sistem pengelolaan sampah yang mengembangkan lahan
cekungan dengan syarat tertentu, antara lain jenis dan porositas tanah. Dasar
cekungan pada sistem ini dilapisi geotekstil. Lapisan yang menyerupai plastik
ini menahan peresapan lindi ke tanah. Diatas lapisan ini, dibuat jaringan pipa
yang akan mengalirkan lindi ke kolam penampungan. Lindi yang telah melalui
instalasi pengolahan baru dapat dibuang ke sungai. Sistem ini juga mensyaratkan
sampah diuruk dengan tanah setebal 15 cm tipa kali timbunan mencapai ketinggian
2 meter.
Gambar 12. Pengolahan sampah
dengan system Sanitary Landfill
Sistem Sanitary Landfill tentunya harus memenuhi desain teknis tertentu
sehingga sampah yang dimasukkan ke tanah tidak mencemarkan tanah dan air tanah.
Di sejumlah negara maju, sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA),
sampah dipilah terlebih dahulu antara sampah organik dan non-organik, sampah
yang mudah terdegradasi dan yang sulit.
Sistem ini mampu mengontrol emisi gas metan, karbondioksida atau gas berbahaya
lainnya akibat proses pemadatan sampah. RSL juga bisa mengontrol populasi lalat
di sekitar TPA. Sehingga mencegah penebaran bibit penyakit.
Cara kerjanya, di RSL, sampah ditumpuk dalam satu lahan. Lahan tempat sampah
tersebut sebelumnya digali dan tanah liatnya dipadatkan. Lahan ini desbut
ground liner. Usai tanah liat dipadatkan, tanah kemudian dilapisi dengan geo
membran, lapisan mirip plastik berwarna yang dengan ketebalan 2,5 milimeter
yang terbuat dari High Density Polyitilin, salah satu senyawa minyak bumi.
Lapisan ini lah yang nantinya akan menahan air lindi (air kotor yang berbau
yang berasal dari sampah), sehingga tidak akan meresap ke dalam tanah dan
mencemari air tanah. Di atas lapisan geo membran dilapisi lagi geo textile yang
gunanya memfilter kotoran sehingga tidak bercampur dengan air lindi. Secara
berkala air lindi ini dikeringkan.
Sebelum dipadatkan, sampah yang menumpuk diatas lapisan geo textille ini
kemudian ditutup dengan menggunakan lapisan geo membran untuk mencegah
menyebarnya gas metan akibat proses pembusukan sampah (yang dipadatkan) tanpa
oksigen.
Geo membran ini juga akan menyerap panas dan membantu proses pembusukan.
Radiasinya akan dipastikan dapat membunuh lalat dan telur-telurnya di sekitar
sampah. Sementara hasil pembusukan samapah dalam bentuk kompos bisa dijual.
Gas metan ini juga yang pada akhirnya digunakan untuk memanaskan air hujan yang
sebelumnya ditampung untuk mencuci truk-truk pengangkut sampah. Henky yakin
jika truk sampah yang bentuknya tertutup dicuci setiap kali habis mengangkut
sampah, tidak akan menebarkan bau ke lokasi TPA.
Pengolahan sampah dengan sistem ini sebenarnya sama saja dengan yang sudah
dilaksanakan TPA Bantar Gebang. Hanya saja, pada Zona I TPA Bantar Gerbang,
groun lner tidak menggunakan geo membran untuk menahan air lindi. Dan terjadi
kebocoran yang menyebabkan pencemaran air serta pencemaran udara.
Jika, TPA Bantar Gebang direhabilitasi kemudian pola pengolahannya digantikan
dengan RSL, pemerintah daerah Jakarta, emnurut Henky tidak perlu mencari lokasi
baru untuk menampung sampah. Karena sampah dapat diolah secara berkesinambungan
dan sistem di ground liner bisa diperbaiki secara berkala.
Sampah seperti pecahan kaca, logam, dan plastik dibakar dulu hingga menjadi abu
sebelum ditimbun. Sampah yang mudah terdegradasi seperti sisa makanan, digiling
terlebih dulu sebelum ditimbun. Dasar TPA dilapisi bahan kedap air dan diberi
saluran untuk cairan hasil dari pembusukan sampah (lindi). Di dekat TPA harus
ada sumur kontrol untuk mengontrol apakah air tanah di sekitar TPA sudah tercemar.
TPA di Indonesia, sesungguhnya tidak menerapkan sanitary landfill seperti yang
sering didengung-dengungkan. Paling banter TPA itu menggunakan sistem open
dumping alias model curah yang lebih primitif dibandingkan dengan sanitary
landfill, yakni sampah ditumpuk bergunung-gunung. Jika sistem ini dilengkapi
lapisan dasar kedap air dan saluran untuk lindi masih dianggap mendingan.
Namun, kalo tidak sangat berbahaya sekali karena sampah akan mencemari tanah
dan air tanah (berupa bakteri e-coli dan logam berat) secara langsung. Sudah
begitu, sistem open dumping yang digunakan ternyata masih disertai dengan
pembakaran sampah. Padahal, pembakaran sampah itu "haram hukumnya"
karena pembakaran sampah hanya menghasilkan oksidan berbahaya bagi kesehatan,
apalagi kalo sampah yang dibakar adalah sampah non-organik, seperti plastik,
kaca, atau logam. Jika itu dilakukan sama saja dengan memindahkan sampah di
permukaan tanah ke udara dalam bentuk oksidan.
Sampah landfill yang diproduksi pasar dan rumah tangga, seperti sisa makanan,
sisa sayur mayur, atau segala yang cepat busuk dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
organik dan sumber energi untuk membangkitkan listrik dari tenaga uap. Tempat
pembuangan dengan rayonisasi juga mempersingkat waktu waktu dari pengambilan ke
tempat pembuangan sampah untuk langsung diolah. Durasi ini penting untuk
meminimalkan bau akibat proses pembusukan yang tidak dapat ditunda.
Truk-truk yang menutup sampahnya dengan terpal plastik tebal adalah cermin
pengelolaan sampah yang buruk, dengan ditutup rapat seperti itu bau yang timbul
akan lebih menyengat sebab proses anaerob menghasilkan gas asam sulfida, metan,
dan licit. Sampah cukup ditutup dengan semacam jaring halus yang memungkinkan
proses aerob : menyerap oksigen dan mengeluarkan CO2 yang tidak berbau.
Rayonisasi pembuangan sampah tidak akan membuat warga sekitarnya terganggu
apabila tempat pembuangan dan pengolahan sampah dikelola dengan baik dan tidak
menimbulkan polusi. Kompensasi sosialnya, warga sekitar mendapat tambahan
subsidi kesehatan dan pendidikan sebagai insentif.
Indikator yang bisa dilihat dari komitmen Pemerintah untuk mempercepat
kesadaran masyarakat salah satunya adalah baik buruknya pengelolaan sampah di
setiap kota yang selalu parsial, latah dan berorientasi kepada proyek.
Merujuk pada Protokol Kyoto (1997) yang sampai saat ini belum diratifikasi oleh
Indonesia, khususnya pada Annex A, disebutkan bahwa jenis-jenis buangan yang
bisa diperdagangkan adalah gas-gas rumah kaca, buangan bahan bakar, serta
buangan industri mineral, logam, pelarut dan limbah. Namun, belum banyak pihak
yang memahami apa yang bisa dimanfaatkan menurut protokol tersebut karena
Indonesia masih belum meratifikasi. Menurut pakar Lingkungan Prof (Em) Dr. Otto
Soemarwoto, " Semua pihak yang berhubungan dengan emisi sebaiknya
mempelajari Protokol Kyoto dan pengaturannya melalui Mekanisme Pembangunan
Bersih sehingga ketika diratifikasi, semua bisa memanfaatkannya".
Kesadaran warga untuk mau memilah sampah organik dan anorganik sebetulnya dapat
dipicu dengan memberikan insentif berupa pengurangan pajak bagi restoran,
kantor, dan pusat bisnis yang kooperatif dalam pemilahan sampah ini.
Langganan:
Komentar (Atom)













